Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, September 16, 2010

Duhai Ukhti,Duhai Istri Shalihah, Aku Ingin Sepertimu

Kisah ini nyata…..,
Judul Asli, “Duhai Ukhti,…Duhai Istri Shalihah….., Aku Ingin Sepertimu…”
oOo
Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.
Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur’an di usia yang relatif sangat muda , Subhanallah…
Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti… Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.
Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.
Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..
Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.
Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.
Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh… Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.
oOo
Suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya. “Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas.” Mereka memang saling memanggil dengan “Ummy” dan ” Abi” . sebagai panggilan mesra. “kenapa Mi ?” Yaqin agak panik “Semua terlihat kabur.” Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya… Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya…
Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.
oOo
“Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya..” pintanya sambil memegang perutnya…
Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.
Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.
“Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang.”
“Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an agar selalu ingat Allah.
Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.
“Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan”
“Itu tandanya Ummi akan segera sembuh.” Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.
Yaqin mencoba menghibur istrinya. “Mi… Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran.”
“Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok” jawabnya singkat. Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.
“Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi.”
“Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi.”
”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??” Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.
oOo
Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.
“Ada apa dengan istriku??.” tanyanya setengah membentak. “Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali.” jawab perawat yang mengurusnya.
Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.
Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya.
“Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?” “Pasti Mi… Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi.” Hatinya seakan berkecamuk. “Doanya yang banyak ya Bi” “Pasti Ummi” “Jaga dan rawat anak kita dengan baik.”
Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi…
Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.
“Pak, ini jenazah baik.” kata perawat itu. Dengan penasaran dia balik bertanya. “Dari mana ibu tahu???” “Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini.” “Subhanalloh…”
Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu hadits
“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejap pun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” (HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah). oOo
“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana” Air matapun tak terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.  ditulis: Senin, 02

November 2009 oleh: -Ummu Farah- (Siti Fauziah Fauzi)
sumber: oaseimani.com

Friday, April 30, 2010

halal buatku..


                Jam telah pun menunjukkan pukul 2 pagi. Dah pagi rupanya patutlah berat mata aku..keluhku.  Buku latihan terakhir yang dah siap kusemak ku letakkan di atas meja. Aku bersengkang mata sampai ke pagi semata-mata nak menyemak semua kerja rumah yang ku berikan kepada anak-anak didikku. Nasib baik la esok hari sabtu, boleh ‘qada’ balik tidur. Aku bingkas bangun dan terus menuju ke katil. Selamat malam.. moga esok akan menjadi hari yang bermakna buatku dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya..Bisikku perlahan.

Kring…kring… bunyi jam loceng di sebelah akhirnya memecahkan keheningan subuh. Aduhai…cepatnya masa berlalu. Terasa seperti baru seminit yang lalu aku melelapkan mata. Walaupun rasa macam badan aku kena himpit Gunung Everest, tapi ku gagahkan juga bangun untuk mendirikan solat subuh. Assalamualaikumwarahmatullah.. Selesai satu kewajipan. Selesai membaca doa, ku bingkas turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan. Seperti biasa, ibu tercinta memang sentiasa bangun lebih awal. Kagumku dengan ketabahan hati wanita di hadapan ku ini. Senyuman yang diukirnya menenangkan dan mendamaikan hatiku. Sejak pemergian ayah 10 tahun lalu, ibu lah segala-galanya bagiku. Oh tuhan, janganlah engkau ambil dia daripadaku kerana ku masih memerlukan kasih sayangnya,,, rintihku. “Zinnirah.. dah mandi ke belum ni?” Tanya bonda tercinta. “Dah bu, sebelum solat subuh tadi.. bu jom lah makan, lapar…” ibu tersenyum dan menyertaiku menjamah nasi goreng yang masih hangat..

Petang itu ku habiskan dengan meng’qada’ tidurku. Namun, bunyi telefon bimbit telah menganggu tidurku. Alahai,,, baru nak mimpi. Ku perhatikan nama di skrin. Oh.. Luqman rupanya. Segera ku picit butang hijau pada telefon bimbit.” Assalamualaikum awak… awak apa khabar? Sihat?” Tanyaku dengan nada mesra. Luqman  Hakim adalah tunangku. Sudah sebulan usia pertunangan ini dan insyaAllah tahun depan akad perkahwinan akan terlafaz. “Waalaikumussalam.. sihat Alhamdulillah..saje telefon nak tanya khabar bakal penghias hidup saya ni.” Luqman tergelak kecil. Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata yang kedengaran lembut di telingaku. “Saya sihat alhamdulillah awak.. awak tu yang kena jaga kesihatan. Kalau tak, camne nak jaga kesihatan pesakit kalau kesihatan doktor sendiri tak terjaga.” Nasihatku. “iye, awak jangan risau, mestilah kena jaga kesihatan terutamanya suara, takut-takut nak lafaz akad nanti takde suara pulak.” Katanya berseloroh. Tinggal sebulan je lagi lepas tu kami sah menjadi suami isteri.Sudah terbit rasa sayangku pada lelaki ini. Aku ingin menjadi yang halal buatnya ya Allah.Biarlah dia yang pertama dan terakhirku. Kami tidak berbual panjang, biarlah yang selebihnya selepas ijab Kabul nanti. Luqman Hakim lah pilihan hati ini..

~*~*~*~*~*~*~*~

“Selamat pengantin baru Zinnirah...”  ucap Falah, sahabat karibku. Sebulan telah pun berlalu, syukur Alhamdulillah, kami telah selamat diijabkabulkan. “Terima kasih Falah.. awak tu bila nak ajak saya makan nasi minyak?” usikku sambil melirik senyuman pada Falah.”InsyaAllah... Cuma tak  ketemu lagi si teruna yang dicari” Falah tergelak .Pagi tadi semasa majlis akad nikah, Luqman hanya melafazkan akad sekali sahaja dan tanpa ku sedari air mataku menitis. Oh.. terasa kebahagiaan di hatiku. Hari yang ditunggu-tunggu telah pun tiba dan kini aku sah menjadi miliknya. Ku pandang wajah ibu.. lalu ku sapu air matanya dan ku dakap seerat-eratnya. “nirah, jangan derhaka pada suami ye.. ingat, syurga isteri di telapak kaki suami.” Pesan ibu. Aku mengangguk perlahan sambil menguntum senyuman. Setelah bersalaman dengan ibu dan adik lelaki tersayang Ali Akbar, kereta Honda CRV memecut keluar dari perkarangan rumah dan menuju ke banglo dua tingkat yang baru dibeli  Luqman. Tiba-tiba ku terasa tanganku digenggam, lantas ku menoleh ke kanan. Senyuman terukir di bibir Luqman. “hehe terkejut? Sorry…akhirnya dapat jugak genggam tangan iseri abang ni.” Kedatangan Luqman mematikan lamunanku. “ haha abang ni, lain kali bagi lah salam” gelakku. “Lah… perlu ke?” Soal Luqman lalu mengambil sisir dari tanganku dan menyikat rambutku.  “Sayang.. jom tidur” manja kedengaran suaranya. Aku tersenyum cuma. Inilah kali pertama Luqman memanggilku sayang. Dengan lafaz bismillahirrahmanirrahim.. tubuhku diangkatnya.Ahh.. bahagia sungguh rasa hati. Semoga kebahagiaan ini berkekalan hingga ke akhir hayat insyaAllah…Amin ya Rabbal Alamin..

Saturday, April 24, 2010

ADIK DAN BIDADARI


Bertanya si adik kecil pada sang bidadari berwajah manusia...
"Wahai kakakku, kenapakah lemah sungguh kaum hawa itu,
asyik berteman tangis dan sendu sahaja."
Lalu berbicara si bidadari berwajah manusia;
"wahai adikku. Bukan wanita itu lemah dek kerana tangis dan
sendunya. Tapi disitulah wahai adikku,kekuatan utuh tidak
ternilai andai pandai digunakan sebaiknya. Tangis sendunya
wanita itu wahai adikku, bisa meleburkan ego seorang
lelaki...menjadi 'izzah' yang paling gah bahkan lebih gah dari
egonya seorang lelaki. Kerana sendu rayunya wanita itu,
Musa a.s terselamat dari kekejaman Firaun. Duhai adikku,
lembut wanita itu bukan lemah, tapi senjata."
Si adik tidak berpuas hati. Lalu dipertikaikan lagi...
"Namun wahai kakakku, wanita itu fitnah dunia." Tersenyum
sang bidadari berwajah manusia.
"Pernahkah adikku dengar akan pesanan Ilahi pada
hambanya? Wahai para lelaki yg beriman,tundukkanlah
pandanganmu. Lalu Allah berfirman lagi antaranya
bermaksud, wahai para wanita yang beriman, tundukkanlah
pandanganmu, dan tutuplah auratmu. Lantas cuba adik nilai,
pada siapa terlebih dahulu ALLAH dahulukan pesanannya?
Pada hamba yang bergelar ar-Rijal. Kerana, andai sang lelaki
menjaga pandangannya, maka tidak mungkin terlihat akan
wanita yang menjadi fitnah pddirinya. Dan tidak ALLAH
lupakan pesanan buat wanita, agar memelihara auratnya
kerana disitulah kehormatannya. Sesungguhnya para wanitawanita
syurga bergelar Hurun 'Ain itu, mereka tidak
memperlihatkan diri mereka kecuali pada para suami mereka
sahaja. Dan mereka dikatakan wanita2 yang suci. Namun...
wanita yg beriman itu, kata Rasulullah, lebih tinggi
martabatnya! Bukan fitnah semata-mata jikalau ar-Rijaal dan
an-Nisa' sama2 mematuhi pesanan Ilahi itu! Sesungguhnya
wanita yang beriman yang solehah itu lebih baik dari ribuan
lelaki yang soleh."
Adik masih tidak puas hati.
"Tapi kakakku, kenapa wanita itu menjadi peragaan?
Tidakkah mereka merasa malu??" Sang bidadari berwajah
menguntum senyum penuh makna. Adus, semakin terasa
mendalam kasih sayang pada penghuni jannah ini!
"Wahai adikku sayang. Al-Haya' itu dalam diri setiap insan.
Wujudnya seiring dengan nafas insani. Dan al-Haya' itulah
pakaian iman. Pada diri wanita itu, indah al-Haya' sebagai
pembenteng diri.Namun, bila mana al-haya nya lebur,
imannya runtuh. Kenapa mereka merelakan diri menjadi
peragaan? Kerana mereka sebenarnya paranoid.Merasakan
diri tidak cukup menarik... merasakan belum cukup lagi dunia
melihat diri mereka.Mereka sebenarnya golongan yg kalah dr
segi psikologi. Namun adikku... wanita solehah itu pasti
melindungi diri mereka dr perbuatan murahan itu."
Adik garu2 kepala."Jadi kakak, masih adakah wanita yg
solehah di dunia ini? Bagaimana hendak adik kenali
mereka???" Sang bidadari tersenyum lagi. Hati terdetik moga
ALLAH merahmati mujahid kecil ini. Berjihad dalam dunianya
sendiri.
"Wahai adikku. Di zaman Rasulullah,diperintahkan wanita2 yg
beriman itu untuk menutupi aurat mereka, dengan itu mereka
mudah dikenali sebagai wanita yg bermaruah. Maka
demikianlah adikku menilai mereka. Tp perlu juga dilihat pd
hatinya... pd akhlaknya...
Di zaman ini, tidak susah membezakan wanita yg solehah
dan yg toleh. Namun adikku... jgn dikau cemuh wanita yg
toleh itu... kerana dlm hati2 mereka, tetap ada satu permata
indah... perasaan cinta pd ALLAH... Kerana fitrah cinta pd
Rabb itu sentiasa ada dlm jiwa insan. Adikku, mereka ini,tetap
punyai keinginan utk kembali pd jalan yg mereka tahu hak
ALLAH. Cuma kadang2 term solehah itu terasa berat di bahu
mereka... Kadang mereka takut pd persepsi wara dan
alim.Sedangkan itu cumalah persepsi. Hakikatnya,wara' itu
bermaksud menjaga.
Maka sesiapa sahaja yg menjaga adalah wara'.Alim itu
maksudnya mengetahui. Barangsiapa yg berilmu maka dia
adalah alim dlm bidangnya.Persepsi yg salah pd dua
perkataan ini menjadikan mereka takut untuk berubah kepada
stage yg lebih baik. Kerana begitulah persepsi masyarakat.
Sedangkan mereka alpa... ALLAH tidak menjadikan makhluk
(ciptaan) ini tanpa tujuan dan garis panduan. ALLAH tidak
zalim kepada ciptaanNYA. Bila mana dia menciptakan hawa
itu dari rusuk adam... Dia telah mengetahui apakah
sebaik2nya buat makhluk bergelar Hawa ini... Ditinggikan
martabat golongan HAWA ini...Tapi sayang... golongan HAWA
ini kadang2 merendahkan martabat mereka yg ALLAH jdkan
penuh kemuliaan...
Wahai adikku... 1001 keindahan penciptaan
wanita.Pandai2lah dikau menilai... antara permata dan debu2
kilauan pasir.Wahai adikku... Wanita ibarat epal. Epal yg tidak
berkualiti...amat mudah diperolehi kerana ia berguguran
ditanah... Tapi epal yg tak mampu dibeli, ia berada di puncak.
Susah dipetik, susah digapai. Terkadang epal itu risau,
kenapalah diriku belum dipetik. Lantas ia merendahkan
martabatnya dan menggugurkan diri menyembah tanah.
Sedangkan ia sebenarnya telah ALLAH jadikan begitu tinggi
martabatnya.Sebenarnya..epal itu terlalu tinggi... elok
sifatnya...sehinggakan tiada siapa yg berani memetiknya.
Hanya pemuda yg benar2 hebat sahaja bisa
memperolehinya... Mungkin bukan di dunia... tp mungkin di
akhirat? Biarlah jodohnya bukan di dunia... asalkan cinta
ILAHI mengiringinya...tak semestinya dipetik di taman dunia?
Tp lebih bermakna bila ALLAH sendiri yg mengarahkan
hamba yg disayanginya utk memetik di taman akhirat kelak."
Adik terpaku sendiri. Mungkin membayangkan sepohon epal
yg besar dengan buah2 epalnya yg kemerahan??Sang
bidadari lalu bangkit.Bicaranya sudah berakhir buat masa kini.
Pastikan dia sambung perbualannya dengan penghuni syurga
ini.
Wahai adikku... sungguh tulus bersih jiwamu. Benarlah kata
ALLAH swt, kamu kanak2 adalah penghuni2 syurga!
Alangkah bertuah dirimu adik... Dan aku? Hanya bidadari
berwajah manusia... berhakkah menjadi bidadari syurga?
Wallahu'alam.

p/s: wahai muslimah, layakkah kita menjadi penghuni syurga? 

renung2kanlah...

sumber:dinul-ukhwah.blog.friendster.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...